February  16th.  2011
Permalink

Press Release LET’S BACK TO THE GOLD SOUNDS!

posted 1 year ago

Ketika Nirvana merilis Nevermind tahun 1991, tatanan musik pop (dan rock) pun terjungkir balik. Segala band yang berbau “Seattle Sounds” diburu. Band-band sebelumnya gerilya ber-do it yrself, segera saja meneken kontrak dengan label-label besar semacam Geffen, Epic, dll. Zaman heavy metal dan hardrock seolah berganti.

Nirvana tak sendiri. Di belakangnya berdiri seabrek band lain lulusan (atau pernah berkiprah di) Seattle dan sekitar Negara Bagian Washington seperti Pearl Jam, Mudhoney, Soundgarden, Alice in Chains, Green River, Malfunkshun, Mother Love Bone, Melvins, Screaming Trees, dan lain-lain. Pun di belahan Amerika Serikat lainnya. Dan jenis musik “grunge” ternyata masih punya “saudara sepupu”: indie rock, lofi, stoner rock, noise rock, experimental, sludge metal, dan seabreg sebutan lain. Dari yang semula bergerilya berazaskan “Do It Yr Self” hingga mereka yang langsung mengecap manisnya bekerjasama dengan label raksasa. Dari mulai band-band yang telah aktif sejak awal 80-an seperti Sonic Youth, Sebadoh, The Flaming Lips, Dinosaurs Jr., sampai yang lahir di akhir 80-an atau awal 90-an seperti Smashing Pumpkins, Pavement, Yo La Tengo, Stone Temple Pilots, Bush, Weezer, hingga Offspring dan Green Day yang jelas-jelas mengusung punk rock. Singkatnya, dekade 1990-an adalah masa di mana “alternative rock” berjaya dan mencapai titik puncaknya. Media umum di Amerika menyebut mereka “trend”. Eropa ditulari demam yang sama. Pemuda di seluruh dunia menggandrunginya, tak terkecuali muda-mudi di Indonesia.

Dan di Bandung, seperti juga di Jakarta, Yogya, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya, kaum mudanya pun menggandrungi selera yang sama. Di antara band-band ala British rock, punk, hardcore, grindcore, hingga deathmetal, terselip band-band grunge dan sejenisnya yang mengisi acara-acara underground hingga bazar atau pensi—walau oleh sebagian pihak genre musik ini tak layak disebut “underground”. Sebagai respons atas anggapan “tak adil” itu, mereka yang doyan musik grunge dan sejenisnya ini mau tak mau membuat acara dan “kompilasi” sendiri. Bukannya ingin mengeksklusifkan diri namun itulah cara yang mau tak mau harus ditempuh. Dari sini, konsep DIY dilakukan (kembali), sebagai akibat “ketersisihan” tadi. Bila band bersangkutan ingin buat album, setiap personil patungan, dari mulai biaya rekaman hingga produksi. Begitu pula ketika membuat album kompilasi, tiap band patungan agar impian terwujud. Misalnya kompilasi Grunge Is Dead yang dirilis akhir 1997/awal 1998. Pun ketika sebuah acara digelar. Pertemanan dan kedekatan emosional  melebihi segalanya.

Dan semangat DIY tetap ada hingga satu dekade kemudian. Pada akhir 2008 kami berkumpul tuk merayakan kebersamaan: membuat CD kompilasi. Belasan band terkumpul hingga akhirnya diputuskan 12 band tuk disertakan dalam kompilasi ini. Januari 2011 CD ini pun siap dirilis. Ada 3 dari Jakarta, sisanya dari Bandung.

Berikut ke-12 band yang ada dalam kompilasi ini (berikut judul lagunya):

1.         Superabundance (Marching as Heavy as Confusing Rock)

2.         Lull (Driving Shotgun)

3.         Sorra Aku (Stereo)

4.         Suri (Ether)

5.         Sound of Molly (Rock n Roll Bitch)

6.         Rajam (Kaku)

7.         Nic Fit (Are You with Me?)

8.         Moistdist (Losing You)

9.         Neowax (Sounding Woods)

10.     Serigala Jahanam (Dunia Bawah)

11.     Waterbroke (Do You Really Want to Hurt Me?)

12.     Siklus Pagi (Sad Song)

 

Kompilasi ini bertujuan untuk memenuhi dahaga mereka yang rindu akan musik 90-an (selain kompilasi yang tak kalah asyiknya, yaitu Grunge Indonesia The Soundtracks MP3). Dan semoga itulah yang terjadi.

Kami berharap bahwa kompilasi ini akan berkelanjutan, dengan band-band pendukung lain yang berbeda dan tak kalah asyiknya, dan tak hanya dari Bandung dan Jakarta.

Awalnya selera yang sama, lalu berkumpul dalam komunitas(-komunitas) yang saling mengerti dan menghargai, kemudian semangat yang membara, maka lahirnya CD ini. Dan musik, pada akhirnya, mau ia berjenis apa pun, akan tetap dihayati sebagai hasil estetika, hasil seni, sebagai pengalaman jiwa. Ia mantra sekaligus puisi nonverbal.

Tabik!

 

 

Ojel

  1. iqbalhfz reblogged this from gogs-store
  2. gogs-store posted this